Rabu, 11 September 2013

PENDAPATAN REGIONAL 2013



Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan suatu ukuran yang sering digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah.  Pada dasarnya, PDRB ini menggambarkan seluruh nilai tambah (value added) dari seluruh sektor perekonomian.

Kontribusi Sektoral
Selama 5 tahun terakhir, ekonomi Karangasem menunjukkan pertumbuhan yang stagnan di level 5 persen, yakni  5,2 persen di tahun 2007; 5,07 persen di tahun 2008; 5,01 persen di tahun 2009; 5,09 persen di tahun 2010; dan 5,19 persen di tahun 2011.

Selama kurun waktu 5 tahun tersebut terjadi pergeseran dimana sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan mengalami laju pertumbuhan tertinggi selama 2007-2008. Sedangkan mulai 2009-2011, sektor pertambangan dan penggalianlah yang mengalami laju tertinggi.

Pertumbuhan yang tinggi pada sektor ini dipengaruhi tingginya demand akan bahan galian seperti pasir dan batu sebagai akibat meningkatnya pembangunan infrastruktur, khususnya oleh pemerintah. Apalagi Karangasem merupakan lokasi utama penggalian pasir untuk men-supply kebutuhan Karangasem khususnya maupun Bali secara umum.

Sebagai daerah yang berbasis pertanian dalam arti luas, kontribusi yang diberikan sektor ini merupakan yang terbesar dibandingkan sektor lainnya meskipun dari tahun ke tahun besarnya share ini cenderung menurun. Secara berturut-turut dari 2007 hingga 2011, share yang mampu diberikan sektor ini mencapai 30,80; 29,60; 28,96; 28,33; dan 27,33 persen. Peranannya mulai tergeser oleh sektor tersier yang dimotori oleh jasa-jasa. Peranan yang diberikan sektor ini mencapai 22,64 persen di tahun 2009 dan meningkat menjadi 23,14 persen di tahun 2011.

PDRB Per Kapita
Adapun PDRB perkapita atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 10,43 juta di tahun 2010 dan Rp 11,45 juta di tahun 2011. Sejalan dengan PDRB perkapita ADHB, PDRB perkapita atas dasar harga konstan (ADHK) juga senantiasa tumbuh dengan laju 4,32 persen di tahun 2010 dan 3,06 persen di tahun 2011.

Meningkatnya kedua ukuran ini sesungguhnya menunjukkan bahwa secara ekonomi telah terjadi perbaikan kondisi masyarakat. Namun ukuran ini tidak menjamin meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara riil karena sesungguhnya kesejahteraan itu meliputi berbagai aspek, bukan hanya ekonomi saja. 

DATA YANG TERKAIT: KLIK>>>PENDAPATAN REGIONAL<<<KLIK


Daftar Tabel Publikasi Karangasem Dalam Angka2013<<< KLIK

KEUANGAN DAN HARGA-HARGA 2013

Keuangan Daerah
Salah satu implikasi dari adanya otonomi daerah adalah daerah memiliki wewenang yang jauh lebih besar dalam mengelola daerahnya, termasuk pengelolaan keuangan. Realisasi penerimaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karangasem tahun 2012 mencapai Rp 907,03 Milyar. Sedangkan belanja daerah Pemkab Karangasem mencapai Rp 942,88 Milyar. Artinya bahwa terdapat defisit sekitar Rp 35,84 Milyar. Sedangkan dari pembiayaan neto terdapat surplus sebesar Rp 116,46 Milyar. Dengan demikian terdapat total sisa lebih pembiayaan anggaran sebesar Rp 80,61 Milyar.

Adapun sumber penerimaan  Pemkab Karangasem berasal dari Pendapatan Asli daerah (PAD), Dana Perimbangan, serta Lain-lain Pendapatan yang Sah. PAD menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya dari suatu daerah otonom untuk membiayai pembangunan di daerah itu sendiri yang utamanya bersumber dari Pajak Daerah. Atau dengan kata lain PAD menunjukkan kemandirian suatu daerah dalam hal keuangannya. Sedangkan dana perimbangan menunjukkan besarnya dana yang dialokasikan oleh pemerintah, (pusat maupun provinsi) untuk membiayai pembangunan daerah.

Tabel 10.1.1 menunjukkan bahwa PAD hanya memberikan sumbangan sebesar 15,88 persen terhadap penerimaan daerah. Sedangkan 63,77 persennya bersumber dari dana perimbangan, terutama dari Dana Alokasi Umum. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian Kabupaten Karangasem masih sangat rendah dan bergantung pada pemerintah pusat dan provinsi.

Harga-Harga
Sementara itu, rata-rata harga beberapa barang kebutuhan pokok masyarakat relatif tidak mengalami perubahan yang signifikan. Kenaikan harga terjadi pada komoditas beras, gula pasir, garam, minyak tanah, dan gas. Itupun hanya naik sebesar Rp 583 untuk beras, Rp 1.416 untuk gula pasir, Rp 167 untuk garam, Rp 125 untuk minyak tanah, dan Rp 1.000 untuk gas. Sedangkan penurunan harga terjadi pada minyak goreng. Komoditas lainnya seperti ikan asin dan endek Bali tidak mengalami perubahan harga.

DATA YANG TERKAIT: KLIK>>>KEUANGAN DAN HARGA-HARGA<<<KLIK